Followers

About Me

My photo
She was born on 20th Nov 1993. A holder of Bachelor of Business Administration (Hons) majoring in International Business. Currently working :')

Tuesday, July 30, 2013

Mentaliti Kita Orang Melayu

"Kasihani lah saya, wahai manusia" 



Kadang-kadang aku tak faham macam mana sesetengah masyarakat Melayu berfikir. Bukanlah aku nak berkata yang mentaliti aku ni kelas pertama, ada juga kurangnya dalam berfikir tapi aku pelik dengan sesetengah Melayu berfikir. 

Mengapa sesetengah orang Melayu pandang hina sangat pada anjing?

Anjing pun sama macam kucing sifatnya. inginkan belaian, bermain-main dengan si tuan cuma anjing adalah najis berat dalam Islam. Kenapa kita boleh sayang pada kucing tapi bukan pada anjing? Masyarakat Melayu sangat jijik bila ada anjing kat sebelah. KOTOR KOTOR!! Kalau dah tersentuh bila basah tu, samak je la! apa susah. 

Kadang-kadang aku fikir aku nak bawak makanan kucing dalam handbag aku bila keluar jalan-jalan. Kalau jumpa kucing berkeliaran yang kelaparan, aku boleh ambik makanan terus dari bag aku then terus bagi makan. Kalau aku jumpa anjing jalanan yang terjelir lidahnya sebab bulan puasa, tak ada air sebab hujan tak turun-turun, aku rasa macam nak tolong anjing tu tapi aku takut. Sebab aku belum pernah lagi pegang anjing. Aku takut nak dekat dengan dia, aku teringin nak bagi makanan/minumam kat dia cuma aku TAKUT nak dekat dengan anjing. End up nya, aku berlalu pergi tinggalkan anjing yang kelaparan. Aku tak sanggup nak lihat anjing tu terseksa tapi aku tak berani nak dekat dengan dia. Kejam kah aku? Aku pun tak sedar air mata aku jatuh sekarang ni. 

Bukan salah anjing tu dianggap sebagai najis berat. Allah tak haramkan kita menolong anjing. Janganlah kita seksa anjing ( yang dianggap jijik ). Janganlah kita baling batu pada dia, cantas ekor anjing tu. Anjing tu ada PERASAAN. Dia rasa sakit!! Dia cuma tak dapat berfikir/beritahu sakit dia pada kita. Sama juga pada kucing, arnab dan haiwan2 lain. 


Anjing merupakan haiwan yang sangat bijak. Dia setia dengan tuannya. Sesetengah anjing sanggup tunggu di kubur pemiliknya berhari-hari malah sampai bertahun-tahun sampai mati sebab dia sayang sangat dengan tuannya. Cuma sesetengah anjing yang bernasib malang sebab tidak bertuan. Aku tak suruh kita bela anjing, tapi berhentilah beranggapan haiwan tu jijik, haram dan sebagainya. Tolonglah haiwan tu kalau ia dalam kesusahan. Mungkin kita boleh minta bantuan non muslim bagi makanan pada anjing kalau kita nampak anjing kelaparan di tepi-tepi jalan. Kita boleh samak balik, solat pun sah. Tapi janganlah kita siksa binatang tu. Sebab binatang tu tak mampu berkata apa-apa. 




“ Para sahabat bertanya kepada Nabi SAW, ‘apakah kita boleh memperoleh pahala daripada Tuhan dengan berbuat baik kepada binatang.’ Beliau menjawab: Ya, engkau akan diberi pahala kerana berbuat baik kepada setiap makhluk hidup.”





"Suatu ketika terlihat seorang perempuan muda berjalan terseok-seok seolah menahan rasa letih. Sudah terlalu jauh ia menyusuri sepanjang jalan, untuk mencari sesuap nasi. Menawarkan diri kepada siapa saja yang mau, meski dengan harga yang murah. Perempuan muda itu terlihat terlalu tua dibandingkan dengan usia sebenarnya. Wajahnya kuyu diguyur penderitaan panjang. Ia tidak mempunyai keluarga, kerabat ataupun sanak saudara lainnya. Orang-orang sekelilingnya menjauhinya. Bila bertemu dengan perempuan tersebut, mereka melengos menjauhinya karena jijik melihatnya.

Namun perempuan itu tidak peduli, karena pengalaman dan penderitaan mengajarinya untuk bisa tabah. Segala ejekan dan caci maki manusia diabaikannya. Ia berjalan dan berjalan, seolah tak ada pemberhentiannya. Ia tak pernah yakin, perjalanannya akan berakhir. Tapi ia terus berusaha melenggak-lenggok menawarkan diri. Namun sepanjang jalan itu sunyi saja, sementara panas masih terus membakar dirinya. Entah sudah berapa jauh ia
berjalan, namun tak seorangpun juga yang mendekatinya.

Lapar dan haus terus menyerangnya. Dadanya terasa sesak dengan nafas yang terengah-engah kelelahan yang amat sangat. Betapa lapar dan hausnya ia…

Akhirnya sampailah ia di sebuah desa yang sunyi. Desa itu sedemikian gersangnya hingga sehelai rumputpun tak tumbuh lagi. Perempuan lacur itu memandang ke arah kejauhan. Matanya nanar melihat kepulan debu yang bertebaran di udara. Kepalanya mulai terasa terayun-ayun dibalut kesuraman
wajahnya yang kuyu.

Dalam pandangan dan rasa hausnya yang sangat itu, ia melihat sebuah sumur di batas desa yang sepi. Sumur itu ditumbuhi rerumputan dan ilalang kering dan rusak di sana-sini. Pelacur itu berhenti di pinggirnya sambil menyandarkan tubuhnya yang sangat letih. Rasa hauslah yang membawanya ke tepi sumur tua itu.

Sesaat ia menjengukkan kepalanya ke dalam sumur tua itu. Tak tampak apa-apa, hanya sekilas bayangan air memantul dari permukaannya. Mukanya tampak menyemburat senang, namun bagaimana harus mengambil air sepercik dari dalam sumur yang curam ? Perempuan itu kembali terduduk.

Tiba-tiba ia melepaskan stagennya yang mengikat perutnya, lalu dibuka sebelah sepatunya. Sepatu itu diikatnya dengan stagen, lalu dijulurkannya ke dalam sumur. Ia mencoba mengais air yang hanya tersisa sedikit itu dengan sepatu kumalnya. Betapa hausnya ia, betapa dahaganya ia.

Air yang tersisa sedikit dalam sumur itu pun tercabik, lalu ia menarik stagen itu perlahan-lahan agar tidak tumpah. Namun tiba-tiba ia merasakan kain bajunya ditarik-tarik dari belakang. Ketika ia menoleh, dilihatnya seekor anjing dengan lidahnya terjulur ingin meloncat masuk ke dalam sumur itu. Sang pelacur pun tertegun melihat anjing yang sangat kehausan itu, sementara tenggorokannya sendiri serasa terbakar karena dahaga yang sangat.

Sepercik air kotor sudah ada dalam sepatunya. Kemudian ketika ia akan mereguknya, anjing itu mengibas-ngibaskan ekornya sambil merintih. Pelacur
itupun mengurungkan niatnya untuk mereguk air itu. Dielusnya kepala hewan itu dengan penuh kasih. Si anjing memandangi air yang berada dalam sepatu.
Lalu perempuan itu meregukkan air yang hanya sedikit itu ke dalam mulut sang anjing. Air pun habis masuk ke dalam mulut sang anjing, dan perempuan itu
pun seketika terkulai roboh sambil tangannya masih memegang sepatu…

Melihat perempuan itu tergeletak tak bernafas lagi, sang anjing menjilat-jilat wajahnya, seolah menyesal telah mereguk air yang semula akan direguk perempuan itu. Pelacur itu benar-benar telah meninggal.

Para malaikat pun turun ke bumi menyaksikan jasad sang pelacur. Malaikat Raqib dan Atid sibuk mencatat-catat, sementara malaikat Malik dan Ridwan saling berebut.

Malik – si penjaga neraka – sangat ingin membawa perempuan lacur itu ke neraka, sementara Ridwan – si penjara surga – mencoba mempertahankannya. Ia
ingin membawa pelacur itu ke surga. Akhirnya persoalan itu mereka hadapkan kepada Allah.

“Ya Allah, sudah semestinya pelacur itu mendapatkan siksaan di neraka, karena sepanjang hidupnya menentang larangan-Mu, ” kata Malik.

” Tidak !” bantah Ridwan. Kemudian Ridwan berkata kepada Allah, ” Ya Allah, bukankah hamba-Mu si pelacur itu termasuk seorang wanita yang Ikhlas melepaskan nyawanya daripada melepaskan nyawa anjing yang kehausan, sementara ia sendiri melepaskan kehausan yang amat sangat ? “

Mendengar perkataan Ridwan, Allah lalu berfirman, ” Kau benar, wahai Ridwan, wanita itu telah menebus dosa-dosanya dengan mengorbankan nyawanya
demi makhluk-Ku yang lain. Bawalah ia ke surga, Aku meridhoinya.. “

Seketika malaikat Malik kaget dan terpana mendengar Firman Allah itu, sementara malaikat Ridwan merasa gembira. Ia pun membawa hamba Allah itu
memasuki surga.

Lalu bergemalah suara takbir, para malaikat berbaris memberi hormat kepada wanita, sang hamba Allah, yang Ikhlas itu.

(dikutip dari Kumpulan Kisah Zaman Nabi dan Para Sahabat : ” Jalan Pintas ke Surga “, penerbit Mizan)" 





1 comment:

  1. memang segelintir masyarakat melayu kita masih berada di takuk lama. Keliru di mana tuntutan agama dan manakah tuntutan adat yang sebenarnya. Tiada yang merunsingkan dalam agama kita, islam. Yang menjadikannya susah cuma kita. Masih perlukan sebuah anjakan yang besar untuk mengubah mentaliti. Setiap perbuatan baik pun masih sibuk dikata-kata. Kalau dikata baik tak apa, yang buruk pun masih tak lekang dari setiap ungkapan. Apa kita boleh buat? Bersyukur sajalah kita tak tergolong dalam manusia berfikiran seperti itu dan berdoa lah dijauhkan dari sedemikian rupa. Hentikan kekejaman terhadap setiap makhluk :)

    ReplyDelete

I value your comment :)